Image hosted by Photobucket.com


Aug 24, 2007
Toekang

Toekang means worker, different from other countries, worker in Indonesia (Nederland Indies) most of the time means one man worker. Some of toekangs still can be found nowadays in Indonesia in same look.

Toekang Barang
This toekang is selling stuff, mostly house stuff. As you can see a lot ceramic stuff. Today some toekang barang still wandering selling house stuff but in pickups or becak barang.

Toekang Burung
This toekang is selling exotic burung (bird). Toekang burung is rarely found nowadays. You can buy exotic birds and even exotic animals like orang utan in Pasar Burung (Bird Market in the big cities. Sometime you can find toekang selling burung other exotic animal by the country road. I saw one last year in Cadas Pangeran, Sumedang when I traveled from Bandung to Cirebon.

Toekang Boeah
These toekangs are selling beoah (fruits). You can see they're selling different items, in right, this toekang's selling durian and in left probably selling mango

Toekang Tjoekoer
Toekang Tjoekoer (Barber) till can be found nowadays. In Bandung, you can experience toekang tjoekoer ODB (onder de boom) or DPR (dibawah pohon rindang) in jalan Supratman and in taman cilaki just across Roemah Nenek Restaurant. I remember went to jalan supratman with my friends to get hair cut with toekang tjoekoer ODB. Although it's cheap to get cut in usual barbershop, with toekang tjoekoer ODB is the cheapest in town. Most of toekang tjoekoer has been in business for long time.


Posted at 05:11 am by bandoeng
Comment (1)  




Jul 30, 2007
tempodoeloe is back in business

Dear guys and gals, today tempodoeloe is back in business, hopefully in english, since some of readers can't read bahasa. I will scan my latest postcards i got. I also will set up a new blog about antiques or curios i got . So friends, buckle up , ready for back to the tempodoeloe....

Posted at 04:03 pm by bandoeng
Comment (1)  




Mar 29, 2006
Iklan dalam Katalog Tempo Doeloe

Hampir semua produk yang dijual pasti diiklankan, entah bagaimana bentuknya, dan itu berlaku sejak dahulu kala.  Salah satu bentuknya adalah mencetak katalog. Buku  katalog produk memang tak begitu populer di Indonesia. Lain halnya dengan negara barat (atau bisa juga negara maju) yang perusahaan mencetak banyak katalog barang yang dijualnya.

Dahulu sebenarnya katalog sudah dikenal di Indonesia. Saya sendiri memiliki 2 buah katalog tempo doeloe, satu dari perusahaan furnitur dan satu lagi perusahaan alat-alat medis dan obat-obatan.

Nah, yang saya pajang di bawah ini adalah beberapa iklan yang ada di dalam katalog yang terakhir.  Katalog ini diterbitkan pada tahun 1929 di Batavia. Mohon maaf kalo sedikit agak tak cocok untuk semua umur.
 
Pertama iklan alat untuk merubah  bentuk hidung. Di jaman yang belum mengenal dokter bedah, apalagi bedah plastik, maka alat ini dipromosikan bisa bikin hidung kita jadi agak mancung dan menarik, atau paling nggak bentuk hidung kita jadi betul.  Bayangkan kalo KD(Krisdayanti) mesti memakai ini ......



Kedua  adalah iklan untuk penyakit GO (maaf  deh) yang dijamin dalam satu minggu!! bisa sembuh. Benar-benar obat yang heeeeebaaaatttt



Terakhir adalah iklan untuk kaum wanita dewasa! Berhubung saya bukan wanita, kayaknya nggak perlu saya komentarin deh, cukup baca aja!!


Lain waktu akan saya tampilkan lagi iklan tempo doeloe yang aneh bin ajaib.



Posted at 10:36 pm by bandoeng
Comments (11)  




Mar 17, 2006
Peter Van Dongen

Para penggemar komik di tanah air pasti tahu Peter Van Dongen. Pemuda Belanda ini telah membuat komik yang mengambil latar belakang cerita di Nederland Indies. Dua bua buku komik karyanya adalah Rampokan Java dan Rampokan Celebes. Rampokan Java sendiri telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia, yaitu Rampokan Jawa.  Walaupun dari segi sejarah agak kurang akurat namun dari detil gambar terutama gedung-gedung, para penikmat segala sesuatu Tempo Doeloe pasti akan terpuaskan
Ini beberapa karyanya.






Posted at 11:39 am by bandoeng
Make a comment  

Tempo Doeloe aktif lagi

Setelah sekian lama tidak aktif akhirnya blog ini bisa kembali aktif.  Untung saja tidak sampai setahun blog ini tak aktif dan tidak sampai dicekal oleh blogdrive. 
Sebagai awal pengaktifan kembali saya mulai dengan memuat foto passar baroe dibawah ini. 
Selama enam bulan tidak aktif sebenarnya banyak barang berbau tempodoeloe yang saya peroleh baik itu berupa buku, kartupos, dokumen, peta, dan lainnya.

Buku yang saya peroleh beragam sekali mulai dari buku Haryoto Kunto, buku Atlas tahun 1930-an, majalah tua.  Buku Haryoto Kunto dan Atlas itu sekarang akan saya jual. Jika ada yang berminat bisa menghubungi saya.


Posted at 11:31 am by bandoeng
Comments (6)  




Sep 22, 2005
Dari saya

Sungguh saya mulanya cuman iseng belaka. Eh, malah bulan kemaren dapat email bahwa blog ini mendapat penghargaan (Diamond Award) dari Semarang Photo Archives. Jelas dibanding dengan website itu, blog ini nggak ada apa-apanya. Padahal waktu itu udah 3 bulan blog ini nggak diperbarui. Tapi bukan cuman itu yang bikin saya senang, ada beberapa orang yang beri komentar dan juga email (walaupun tidak berkelanjutan) tentang blog ini. Terus terang saya sendiri jarang memakai komputer. PC saya sampai sekarang masih "tewas" dan internet di kota Bandung amat menyedihkan. Sementara ini saya masih memakai Apple untuk segala sesuatu padahal file saya banyak di PC.

Empat bulan di kota Bandung tetap bikin saya senang juga sedih. Sedih melihat wajah kota yang semakin amburadul, tapi juga senang karena saya bisa berburu barang antik. Susahnya harga di Bandung kadang lebih mahal dari harga di luar negeri. Pernah suatu hari saya ditawari kartupos tua dengan harga penawaran Rp. 300.000 untuk . Padahal semahal mahalnya kartupos yang saya beli hanya Rp.50.000. Tapi mungkin karena sekarang semakin banyak orang yang berminat, maka semakin tinggi harga yang diminta.

Kebanyakan yang saya dapatkan malah buku dan majalah Indonesia tempo doeloe. ada beberapa yang saya beli dengan harga mahal, tapi sebagian besar saya beli dengan harga murah. Selain itu banyak sekali dokumen tempo doeloe dengan harga murah sekali yang saya dapatkan dari seorang bapak yang berjualan perangko.

Bagi para sahabat yang memiliki benda tempo doeloe seperti buku, majalah, komik, dokumen, kartupos dan lainnya dan bermaksud mehibahkannya atau menjual (dengan harga murah tentunya), jangan ragu hubungi saya baik di psantoso@yahoo.com atau bobotohbandung@yahoo.com. Jika anda ingin bercerita dan berbagi ilmu tentang tempo doeloe pun akan saya ladeni.


Posted at 01:55 pm by bandoeng
Comments (4)  

Bandoengku sayang, bandoengku malang

Wah empat bulan sudah lamanya saya libur dari posting terakhir saya. Banyak kejadian, tapi sekarang saya mau memperlihatkan gambar Bandoeng tempodoeloe. Ada tiga foto Bandoeng, yaitu Insulinde park, dan dua foto groote postweg. Groote postweg sekarang dikenal dengan nama jalan Asia Afrika. Baru-baru ini jalan tersebut kembali menjadi bahan pembicaraan karena adanya peringatan 50 tahun konferensi Asia-Afrika. Jalan yang sekarang semrawut untuk satu hari menjadi lengang dan dan dipenuhi oleh para pemimpin benua Asia dan Afrika. Aksi jalan ini untuk merekonstruksi apa yang dulu terjadi di jalan itu, ketika para pemimpin berjalan dari hotel menuju tempat konferensi.
Bandoeng yang difoto terlihat lengang amat berbeda dengan sekarang ini, jalan Asia-Afrika sekarang ini dipenuhi oleh kendaraan terutama motor. Kesemrawutan tak hanya pada jalan juga pada bangunan. aloen-aloen yang dulu merupakan taman kota sekarang ini tengah dijadikan ajang pembangunan masjid agung. Tepat di taman yang pada tahun 80-an menjadi tempat berkeliaran PSK sekarang ini sedang dibangun tampat parkir bawah tanah, sedang diatasnya akan tetap dijadikan taman kota.
Masjid Agung yang sekarang berdiri megah (terlampau megah, malah) seperti berdiri amat sombong dan canggung. Gedung tua yang ada di pojok persis sebelah masjid Agung menjadi anak tiri. Pembangunan masjid ini pun menjadi tanda tanya. Jika mampu membuat tempat parkir bawah tanah, tak mungkinkah pembangunan masjid agung juga diperluas ke bawah tanah. Toh kebanyakan yang datang ke masjid agung ini adalah para pengunjung pusat-pusat perbelanjaan yang mengurung aloen-aloen, yang tak jarang menjadikan masjid agung juga sebagai tempat tidur siang setelah melaksanakan shalat.
Image hosted by Photobucket.com
Image hosted by Photobucket.com
Image hosted by Photobucket.com

Posted at 01:23 pm by bandoeng
Comments (2)  




May 29, 2005
Tempo Doeloe lagi liboer

Nggak kerasa (eh kerasa juga sih) udah sebulan lebih saya berada di kota Bandoeng. Busyeeeet, itu kali kata yang tepat ketika melihat kota di mana saya dibesarkan. Karena itulah blog Tempo Doeloe sekarang dalam masa liboeran panjang. Komputer saya jelas belum sampe, begitu juga koleksi kartupos. Sekarang ini saya masih nebeng komputer dan yang jelas saya nggak ada scanner. Selama satu setengah bulan saya ada di tanah air, saya sempat berburu barang tua, terutama buku. Berburu buku tua memang mengasyikkan. Jika di Amerika dulu saya cukup berada di depan komputer, di sini saya jalan ke sana-sini, ngobrol ngalor-ngidul dengan pedagang buku. Alhasil dari perburuan saya adalah buku tentang Jakarta yang tak terlalu tua tapi tetapi mulai langka yaitu Djakarta through the ages buah karya Drs. R. mohammad Ali dan F. Bodmer. buku ini terbitan tahun 1969. Yang kedua adalah Bandung Guide Book yang diterbitkan dalam rangka Konferensi Islam Asia Afrika di Bandung pada tahun 1965. Buku ketiga juga mengenai Jakarta yaitu Djakarta Dewasa Ini yang diterbitkan tahun 1957. Ketiga buku ini saya dapatkan di Bandung. Sebelumnya saya mendapatkan buku almanak indonesia tahun 1972 di Jakarta. Saya beli buku itu lantaran istri saya dilahirkan di tahun tersebut.

Buat teman yang berminat membeli buku Djakarta through the ages, saya bisa mendapatkan buku yang sama (kemarin ini saya ditawari buku yang sama oleh seorang pedagang), cukup email saya. Dan masih ada beberapa buku lagi hasil perburuan saya, berhubung saya malas untuk menulis, pada kesempatan berikut akan saya "up load" foto buku tua yang saya dapat.

Selain berburu barang tua, saya juga akan mendokumentasikan bangunan tua di Jawa Barat. Hanya sampai saat ini, belum satu foto pun saya ambil, berhubung banyak sekalu kegiatan saya. Akan tetapi ketika saya mengunjungi toko milik kenalan lama saya, saya melihat ada beberapa CD interaktif mengenai dokumentasi bangunan lama di kota Bandung ( Bangunan hasil karya Bung Karno dan sejarah Boscha) dan yang lainnya adalah dokumtasi mesjid di Indonesia. Jika ada teman baik di Indonesia ataupun di Luar Negri ada yang berminat untuk memiliki CD ini, bisa mengirim email ke saya.

Segini dulu deh, posting saya kali ini yang tanpa foto. Karena itu saya beri judul Tempo Doeloe lagi liboer. Posting yang akan datang saya akan sertakan foto. Dan saya tunggu juga saran, kritik, masukan dan lainnya (sumbangan juga boleh terutama kartupos kuno hehehehhehe)


Posted at 12:22 am by bandoeng
Comments (15)  




Apr 5, 2005
Postweg Bandoeng

Salah satu proyek kolosal pada jaman penjajahan dulu adalah proyek pembuatan jalan raya pos (Postweg) . Pembuatan jalan yang diprakarsai oleh Gubernur Jendral pada waktu itu, Daendels, dimulai pada tahun 1811. Jalan Raya yang menghubungi Anyer di ujung barat pulau Jawa dan Panarukan di ujung timur pulau Jawa, tak hanya terbilang wah di jaman itu tapi juga menelan banyak korban buruh pribumi.
Kota Bandoeng merupakan salah satu kota yang terlewati jalan raya ini. Postweg yang membelah kota Bandoeng dari barat ke timur, sekarang ini menjadi 3 jalan utama yaitu: jalan Sudirman di sebelah barat, jalan Asia-Afrika di tengah kota, dan jalan Ahmad Yani di timur kota Bandoeng.

Image hosted by Photobucket.com



Posted at 10:02 pm by bandoeng
Comments (2)  

Bandoeng di mata pak Sumarsongko

Di penghujung bulan maret lalu saya menerima email dari pak Sumarsongko. Beliau yang tinggal di NYC (betul ya pak?) dalam emailnya bercerita tentang Bandoeng tempo doeloe. Beliau, yang dilahirkan 76 tahun yang lalu di parijs van Java, mengenang masa kota Bandoeng masih menjadi primadona Indonesia. Sayang sekali kondisi ini berubah, padahal kan Bandoeng memiliki segudang orang pinter dan institusi yang sudah semestinya mendukung pembangunan kota ke arah yang lebih baik.
Pak Sumarsongko menulis:

Keterangan mengenai kota-kota Bandung dan Jakarta zaman dulu, memang sangat tepat. Seperti Jalan Braga, dulu namanya Jalan Pedati (Pedatiweg) pada akhir tahun l900an. Dulu eekitar tahun l939an, saya menemukan sebuah penerbitan khusus surat kabar "AID de Preangerbode," untuk memperingati ulang tahun kota Bandoeng, yang keseratus.
Dalam penerbitan khusus tsb., a.l. saya lihat sebuah gambar pedati dengan muatannya, dan di kanan tampak seorang perempuan berjalan mengiringi pedato, sedang suaminya duduk di pedati, di jalan Braga tsb.
Menurut penerbitan tsb, dulu Jalan Suniaradja namanya Jalan Parapatan Pompa, dan Jalan Tamblong adalah dari nama seorang tukang kayu Tionghwa, yang bernama Tan Long, yang rumahnya terletak di sudut Jl. Tamblong, menempati Hotel Preanger sekarang.
Pembangungan terakhir adalah tahun l939, sesuai rencana Pemerintah Hindia Belanda untuk menjadikan Bandoeng sebagai ibukota menggantikan Batavia. Hotel Homann dibangun kembali dengan gaya art deco, seperti juga gedung bank Denis dan gedung toko Onderling Belang, di Braga, across the street dari gedung bioskop Majestic.
Pada tahun tsb. dibangun viaduct, karena lalu-lintas yang dari Landraadweg (punten, apakah namanya sekarang "Jl. Pengadilan?"?), sampai panjang sekali semua delman, kretek menunggu kereta api lewat dari setasion Bandoeng atau kereta api dari arah timur. Kemudian viaduc tsb juga menghubungkan Jl. Suniaradja dengan Jl. Braga. Dulu jalan di Jl. Braga tsb jalan buntu, namanya Gang Effendi.
Lalu pembangunan lain adalah jalan samping penjara Banceuy, dulunya jalan kampung, dibikin tembus sampai Jl. Braga di Jl. Naripan. Sayang sekali sekarang banyak gedung bersejarah sudah dihancurkan. Seperti gedung penjara tsb. menjadi mall, cuma tempat Bung Karno dipenjara, masih dipertahankan. Kemudian gedung-gedung bioskop Varia, Elita dan Orienetal di sekitar alun-alun juga sudah dihancurkan. Padahal dulu gedung Varia adalah tempat Bung Karno dan pemimpin-pemimpin pergerakan kemerdekaan kita, mengadakan rapat-rapat umum.

Posted at 09:41 pm by bandoeng
Comments (4)  




Next Page



   









Contact Me

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed