Bandoengku sayang, bandoengku malang
Wah empat bulan sudah lamanya saya libur dari posting terakhir saya. Banyak kejadian, tapi sekarang saya mau memperlihatkan gambar Bandoeng tempodoeloe. Ada tiga foto Bandoeng, yaitu Insulinde park, dan dua foto groote postweg. Groote postweg sekarang dikenal dengan nama jalan Asia Afrika. Baru-baru ini jalan tersebut kembali menjadi bahan pembicaraan karena adanya peringatan 50 tahun konferensi Asia-Afrika. Jalan yang sekarang semrawut untuk satu hari menjadi lengang dan dan dipenuhi oleh para pemimpin benua Asia dan Afrika. Aksi jalan ini untuk merekonstruksi apa yang dulu terjadi di jalan itu, ketika para pemimpin berjalan dari hotel menuju tempat konferensi.
Bandoeng yang difoto terlihat lengang amat berbeda dengan sekarang ini, jalan Asia-Afrika sekarang ini dipenuhi oleh kendaraan terutama motor. Kesemrawutan tak hanya pada jalan juga pada bangunan. aloen-aloen yang dulu merupakan taman kota sekarang ini tengah dijadikan ajang pembangunan masjid agung. Tepat di taman yang pada tahun 80-an menjadi tempat berkeliaran PSK sekarang ini sedang dibangun tampat parkir bawah tanah, sedang diatasnya akan tetap dijadikan taman kota.
Masjid Agung yang sekarang berdiri megah (terlampau megah, malah) seperti berdiri amat sombong dan canggung. Gedung tua yang ada di pojok persis sebelah masjid Agung menjadi anak tiri. Pembangunan masjid ini pun menjadi tanda tanya. Jika mampu membuat tempat parkir bawah tanah, tak mungkinkah pembangunan masjid agung juga diperluas ke bawah tanah. Toh kebanyakan yang datang ke masjid agung ini adalah para pengunjung pusat-pusat perbelanjaan yang mengurung aloen-aloen, yang tak jarang menjadikan masjid agung juga sebagai tempat tidur siang setelah melaksanakan shalat.
