 |
 |
 |
 |
 |
|
Mar 24, 2005
Kabupaten Bandung merupakan pendamping kota Bandung sejak dulu. Jika kota Bandung tak pernah berubah banyak. Maka kabupaten Bandung selalu mengalami perubahan. Contoh yang mudah adalah ibukta kabupaten Bandung. Jika dahulu -seingat saya- ibukota kabupaten Bandung bertempat di kota Bandung. Tepatnya di sebelah selatan alun-alun kota bandung. Kemudia pada tahun 80-an (atau 90-an?) ibukota kabupaten pindah ke Soreang, kota kecil di selatan Bandung. Kota kecil yang pasti terlewati jika kita pergi Pangalengan. Foto di bawah ini adala foto pusat pemerintahan kabupaten Bandung yang bertempat di selatan alun-alun kota Bandung

Posted at 08:29 pm by bandoeng
Permalink
Kalo sekarang yang mulai populer di Bandung adalah Cihampelas Walk ( saya sendiri belum pernah ke sana :-) ) maka waktu jaman hindia belanda dulu, jalan Braga merupakan sentra pertokoan terkemuka. Kensep yang dicetuskan oleh walikota Bandung saat itu, B. Coops. Ia menginginkan Bragaweg jadi sentra pertokoan di Nederland Indies yang bergaya barat.

Sebenarnya pada awalnya sebelum tahun 1882 nama yang diberikan adalah jalan pedati, pedatiweg, yang kemudian pada tahun tersebut, asisten residen Bandung, Pieter Sitjhoff, merubahnya menjadi Bragaweg. Nama yang diambil dari nama kelompok tonil yang didirikannya.

Kabarnya jalan Braga sekarang tak lagi menjadi sentra perbelanjaan, bahkan kesan kumuh mulai tampak. Sayang sekali jika hal ini terjadi. Jalan yang pernah menjadi salah satu judul lagunya Habas Mustapha, bakal membuat kota Bandung kehilangan salah satu daya tariknya.
Pak Sumarsongko yang lahir 76 tahun yang lalu di kota Bandoeng menulis:
Saya teringat sekali dengan Bragaweg, karena setiap hari saya lewat
jalan tsb dari sekolah saya di Logeweg (sekarang Jalan Wastukancana) no.
3, di samping greja. Waktu itu, Jalan Braga seperti Fifth Avenue-nya
Bandoeng, sangat ekslusif untuk orang-orang Belanda yang berbelanja
maupun yang makan-minum di Maison Bogerijen (sekarang Bandung Permai).
Sayangnya bangunan Braga Permai sekarang sudah di permak. Padahal saya masih ingat, waktu kecil dulu saya sering di ajak bapak saya untuk duduk-duduk di teras Braga Permai sambil makan es kriim.
Posted at 08:21 pm by bandoeng
Permalink
Mar 15, 2005
Station Bandoeng tempo doeloe
Jika anda mengunjungi kota Bandung, maka yang paling besar kemungkinan anda menggunakan kereta api. Berbeda dengan Jakarta, maka hanya ada 2 statsun di kota Bandung (bener nggak ya?) dan sebagian besar kereta penumpang hanya berhenti di stasiun Bandung. Ada 2 pilihan untuk anda keluar merambahi kota Bandung. Satu ke arah Utara dan yang lainnya ke arah Selatan. Tak heran kalau dulu-dan sebagian sampai sekarang- warga Bandung menganggap rel kereta ini sebagai pemisah antar Bandung Utara dan Selatan.
Stasiun Utara telah lama mengalami renovasi, sedang stasiun Selatan tetap dipertahan kesan klasiknya, apalagi ditambah dengan adanya lokomotif tua di halamannya. Foto dibawah ini, hampir pasti adalah foto stasiun Selatan, yang tampak masih lengang. Sekadar mengingatkan buat mereka yang turun di stasiun selatan, jangan lupa mampir ke restoran sate Hadori, yang walaupun kurang begitu bersih tapi tetap enak(hehehehehehe). Kalau tak salah di salah satu bukunya bapak Haryoto Kunto, si kuncen Bandung, disebut bahwa Hadori ini sudah ada dari tahun 70-an awal.
Posted at 05:51 am by bandoeng
Permalink
Orang Jakarta tak ada yang tak kenal Senen. Pasar Senen dengan terminalnya memang ramai, atau tepatnya semrawut. Seperti apa sih wajah Senen tempo doeloe? Bagaimana sih revolusi wajah Senen? Mungkin tiga foto ini akan lebih memudahkan kita membayangkan Senen tempo doeloe.

Foto diatas kemungkinan diambil ketika jaman penjajahan, terlihat dari kondisi jalan dan juga baju yang dikenakan oleh anak yang berjalan kaki dan juga dari tanda reklame di toko.

Sedang foto yang kedua ini, bisa jadi diambil sekitar tahun 50-60an. Senen terlihat sudah ramai amat jauh berbeda. Sayangnya saya sendiri, yang bukan aseli Jakarta, tidak bisa menebak tepatnya di manakah foto ini diambil.

Foto terakhir diambil pada tahun 1973. Keadaannya belum sesemrawut sekarang ini, hampir tak jauh berbeda dengan foto sebelumnya. Sekali lagi saya tak bisa menebak dibagian Senen sebelah mana foto ini diambil. Jika ada pembaca yang bisa memberi info atau sedikit pencerah, saya tentunya amat senang.
Pak Sumarsongko menambahkan:
Gambar Senen, adalah di intersection Senen, Kramat dan Kwiteang.
Terima kasih pak!
Posted at 05:30 am by bandoeng
Permalink
Mar 9, 2005
Hampir semua orang yang dilahirkan dan dibesarkan di Indonesia hafal peta Indonesia. Di setiap kelas, baik di SD, SMP, bahkan SMA selalu ada atlas yang tergantung di salah satu dinding. Pelajaran geografi yang ada sejak SD hingga SMA juga menambah lekat ingatan kita akan bentuk geografi Indonesia. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan teknologi, sebenarnya bentuk Indonesia selalu berubah. Saya masih ingat ketika di SD dahulu, walau bentuk kepulauan Indonesia tak berubah, akan tetapi jumlah pulau di Indonesia ketika masih 13000 lebih. Baru, kalau tak salah, ketika saya SMA, pemerintah Indonesia merevisi jumlah pulau yang dimiliki Republik ini hingga menjadi 17000 lebih.Sesuatu hal yang membuat dahi aga berlipat soalnya ketika itu Indonesia sudah memiliki beberapa satelit komunikasi Maka tak heran kalau kita melihat peta tempo doeloe pun bentuk kepulauan Indonesia amat jauh berbeda dengan sekarang ini. Peta yang ada dibawah ini di cetak tahun 1631 dan, kalau tak salah oleh Mercator. 
Posted at 02:58 am by bandoeng
Permalink
Mar 8, 2005
Jika kita pernah naik kereta-api di Jakarta, makanya hmpir pasti kita pasti tahu Manggarai. Salah satu statiun yang paling tidak kita pernah lalui adalah Manggarai yang, kalau tak salah, sekarang terdapat depo perusahaan kereta-api Indonesia. Kalau kita melewati Manggarai entah itu dengan kereta-api atau dengan mobil di depan stasiun Manggarai, maka, seperti juga tempat lain yang ada di dalam kota Jakarta, terasa sesak. Tetapi kartupos yang dicetak di jaman kolonial dibawah ini memperlihatkan kawasan Manggarai yang masih lengang, malah terasa seperti di luar kota Jakarta.
Posted at 05:55 am by bandoeng
Permalink
Indonesia di jaman penjajahan dulu, atau jaman Nederlands indië amat terkenal. Bayangkan saja Manhattan yang dulunya juga dikuasai oleh tuan tanah asal Belanda dihargai lebih murah dengan tanah di Maluku. Sumatra juga telah dikenal sejak dulu, salah satunya sebagai penghasil tembakau. Bagaimana dengan Jawa atau di lidah orang asing lebih dikenal dengan nama Java. Java adalah penghasil kopi yang mahsyur di jaman kolonial dulu. Amat terkenalnya hingga hingga sekarang ini orang barat banyak yang menamai kopi dengan Java. Tak peduli apa kopi itu benar asal pulau Jawa atau Colombia, atau malah asal dari tanah aseli kopi sendiri, yaitu ethiopia. Namun selain sebagai penghasil kopi, Java diwaktu jaman kolonial dulu juga terkenal sebagai penghasil OPIUM! Bahkan lebih terkenal dari Shanghai. Produksi opium waktu itu tentu saja dilegalkan oleh kumpeni atau VOC, bahkan menjadi salah satu penghasil devisa yang cukup besar. Tak heran kalau kita membaca buku mengenai opium maka hampir dapat dipastikan akan ada gambar yang berhubungan dengan opium yang diambil di Java eh Jawa.Salah satu gambar yang saya punya adalah gambar pabrik opium di Jakarta (Batavia) di tahun 1900. Hanya sayangnya gambarnya kurang jelas.
Sekedar tambahan dari pak Sumarsongko:
Gambar paberik candu, adalah di samping gedung utama Universitas
Indonesia (dulu gedung Geneeskundige Hoge School, Sekolah Tinggi Kedokt
eran), Salemba.
Posted at 05:46 am by bandoeng
Permalink
Mar 5, 2005
 Glodok terkenal sebagai salah satu sentra perekonomian kota Jakarta. Jika sekarang glodok amat ramai dan macet, Glodok tempo doeloe pun sudah memperlihatkan gejala-gejala itu. Di foto, yang kemungkinan besar diambil tahun 40-50 (melihat tipe mobil yang berseliweran), tampak dari nama toko yang terpasang bahwa Glodok tempo doeloe juga merupakan sentra perdagangan kaum keturunan china.
Posted at 05:41 am by bandoeng
Permalink
 Label atau lebih tepatnya sih gambar tempel promosi hotel sudah jadi salah satu yang dikoleksi seperti layaknya perangko, foto, sampul hari pertama, surat, tanda-tangan dan lain sebagainya. Gambar tempel hotel indonesia tempo doeloe termasuk yang dicari oleh para kolektor.
Apa sebabnya? Pertama-tama karena kebanyakan gambar Indonesia tempo doeloe itu bergaya art deco. Kedua beberapa gambar tempel Indonesia tempo doeloe itu didesain oleh desainer top pada jamannya seperti Jan Laevis. Sebenarnya tak hanya gambar tempel hotel yang dikoleksi, hampir semua label baik itu hotel, produk barang, perusahaan penerbangan juga dikoleksi. Hanya saja kebanyakan yang beredar dan sudah terkenal ya itu tadi, gambar tempel hotel.

Pernah satu ketika saya jalan-jalan ke toko diskon di Amerika, seperti Matahari. Mata saya terpana pada salh serangkaian piring yang berukuran kecil yang bergambar label hotel tempo doeloe. Salah satu dari piring tersebut bergambar label hotel Dolce Garoet. Saya pernah lihat label tersebut dilelang di ebay.
Untuk sekarang ini saya pasang dua gambar tempel hotel indonesia tempo doeloe. Salah satunya (label hotel Ngamplang)di desain oleh Jan Laevis.
Posted at 04:34 am by bandoeng
Permalink
 Banjir ternyata bukan produk moderen bagi indonesia. Kota jakarta atau dulunya ngetop dengan nama Batavia, sudah bercanda dengan banjir sejak jaman kolonial. Hanya sayangnya tak ada informasi lebih jauh dengan foto di atas ini.
Bagaimana dengan longsor? Lain dengan banjir nampaknya longsor yang sekarang sering kali menimpa Indonesia terutama Jawa Barat bukan "dosa turunan."
Posted at 03:57 am by bandoeng
Permalink
|
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
 |
|
 |