|
Pak Sumarsongko menulis: Keterangan mengenai kota-kota Bandung dan Jakarta zaman dulu, memang sangat tepat. Seperti Jalan Braga, dulu namanya Jalan Pedati (Pedatiweg) pada akhir tahun l900an. Dulu eekitar tahun l939an, saya menemukan sebuah penerbitan khusus surat kabar "AID de Preangerbode," untuk memperingati ulang tahun kota Bandoeng, yang keseratus. Dalam penerbitan khusus tsb., a.l. saya lihat sebuah gambar pedati dengan muatannya, dan di kanan tampak seorang perempuan berjalan mengiringi pedato, sedang suaminya duduk di pedati, di jalan Braga tsb. Menurut penerbitan tsb, dulu Jalan Suniaradja namanya Jalan Parapatan Pompa, dan Jalan Tamblong adalah dari nama seorang tukang kayu Tionghwa, yang bernama Tan Long, yang rumahnya terletak di sudut Jl. Tamblong, menempati Hotel Preanger sekarang. Pembangungan terakhir adalah tahun l939, sesuai rencana Pemerintah Hindia Belanda untuk menjadikan Bandoeng sebagai ibukota menggantikan Batavia. Hotel Homann dibangun kembali dengan gaya art deco, seperti juga gedung bank Denis dan gedung toko Onderling Belang, di Braga, across the street dari gedung bioskop Majestic. Pada tahun tsb. dibangun viaduct, karena lalu-lintas yang dari Landraadweg (punten, apakah namanya sekarang "Jl. Pengadilan?"?), sampai panjang sekali semua delman, kretek menunggu kereta api lewat dari setasion Bandoeng atau kereta api dari arah timur. Kemudian viaduc tsb juga menghubungkan Jl. Suniaradja dengan Jl. Braga. Dulu jalan di Jl. Braga tsb jalan buntu, namanya Gang Effendi. Lalu pembangunan lain adalah jalan samping penjara Banceuy, dulunya jalan kampung, dibikin tembus sampai Jl. Braga di Jl. Naripan. Sayang sekali sekarang banyak gedung bersejarah sudah dihancurkan. Seperti gedung penjara tsb. menjadi mall, cuma tempat Bung Karno dipenjara, masih dipertahankan. Kemudian gedung-gedung bioskop Varia, Elita dan Orienetal di sekitar alun-alun juga sudah dihancurkan. Padahal dulu gedung Varia adalah tempat Bung Karno dan pemimpin-pemimpin pergerakan kemerdekaan kita, mengadakan rapat-rapat umum. |
| Dasman Djamaluddin December 18, 2009 07:05 AM PST NIAT MEMBANGUN KEMBALI RUMAH BUNG KARNO Oleh Dasman Djamaluddin Saya termasuk di antara undangan yang hadir dalam Seminar Draft Garis-Garis Besar Pengembangan Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Selasa, 15 Desember 2009 lalu di Jakarta. Meski undangan terbatas, tetapi di dalam seminar tersebut muncul gagasan-gagasan menarik yang patut dikembangkan dan dilaksanakan demi generasi penerus bangsa yang cinta akan sejarah bangsanya sendiri. Ada dua gagasan pokok yang dapat saya tarik dari seminar tersebut. Pertama, betapa bangsa ini banyak yang tidak mengetahui sejarah bangsanya sendiri. Seakan-akan bangsa ini ingin melupakan sejarahnya dan lebih suka membaca sejarah-sejarah bangsa dari luar. Sebagai bukti banyak di antara peserta tidak mengetahui bahwa bangunan gedung yang berada di Jl.Imam Bonjol No.1 Jakarta Pusat yang di depannya berdiri megah rumah Dubes Amerika Serikat itu adalah Rumah Maeda, seorang Admiral Angkatan Laut Jepang yang mengizinkan para pendiri bangsa merumuskan naskah proklamasi, cikal bakal dari kemerdekaan bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945. Tentang gambaran rumah Maeda ini pada malam 17 Agustus 1945, Burhanudin Muhammad Diah atau lebih sering namanya disingkat B.M.Diah yang hadir dalam persitiwa bersejarah penting malam 17 Agustus 1945 sebagai satu-satunya seorang wartawan, di dalam buku yang saya tulis pada tahun 1992, halaman 57 /Butir-Butir Padi B.M.Diah, Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman, Diungkapkan kepada Dasman Djamaluddin (Jakarta: Pustaka Merdeka,1992), mengatakan: “Kalau bolehlah saya katakan udara fajar di luar rumah kediaman Laksamana Maeda Angkatan Laut Jepang itu sangat cerah. Langit merona agak keputihan. Udara terang karena langit ditabur bintang. Dan orang berpuasa masih boleh makan sahur. Bung Hatta yang berada di tempat naskah proklamasi dibuat, telah memesan makanan untuk sahur. Hari itu kaum Muslimin sedang berada dalam waktu puasa yang telah berjalan beberapa hari. Saya keluar ke pekarangan rumah besar Laksamana Maeda yang memberikan, pejuang kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia sebuah ruangan untuk mempersiapkan satu proklamasi kemerdekaan…Daerah kita itu orang asing yang menguasai. Kita tidak berhak untuk berkumpul dan bermusyawarah di mana saja kita kehendaki. Kita tidak merdeka. Kita tidak memiliki sesuatu kekuasaan. Rumah yang didiaminya (Rumah Maeda), suatu daerah extra-territorial (satu daerah bebas yang berdiri sendiri) bagi kami untuk melaksanakan suatu tindakan sejarah, ketika bangsa Indonesia harus menentukan sendiri hari depannya.” Faktor kedua, menyoroti sejauh mana kepedulian Pemerintah Indonesia terhadap benda-benda bernilai sejarah (museum). Mungkinkan bangsa ini diingatkan kembali agar “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah (Jas Merah)”? Ketika kita melihat bangsa dan negara LAIN sangat menghargai sejarahnya, terbukti dengan berdirinya museum-museum megah yang sangat ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai negara di mana didukung penuh pemerintahnya masing-masing, ada di mana pemerintah kita ? Akhirnya seminar mengerucut kepada dua permasalahan pokok, di mana saya ikut mendukungnya: Pertama, banyak gagasan Bung Karno (Presiden Soekarno, Proklamator dan Presiden Pertama RI) di dalam rangka membuat bangunan-bangunan bersejarah tidak sesuai dengan rencana semula penggagasnya. Contoh konkrit yang dikemukakan adalah menganai bangunan Monumen Nasional (Monas). Kedua, menghimbau pemerintah agar rumah Bung Karno di Pegangsaan Timur dibangun kembali, sehingga generasi penerus bangsa bisa mengenal lebih dekat dan mendalam tentang sejarahnya sendiri. Bahkan saya berkomentar: “MEMBANGUN KEMBALI RUMAH BUNG KARNO LEBIH BAIK DARI PADA MEMBANGUN PATUNG OBAMA DI MENTENG. Memang bangunan ini sekitar tahun 60-an dibongkar atas perintah Bung Karno, sang pemilik. Peristiwa ini hingga kini masih menjadi misteri mengapa Bung Karno yang dikenal cinta budaya, cinta sejarah, cinta peninggalan sejarah itu justeru menghancurkan rumah yang amat bersejarah dan penuh kenangan itu. Dari suatu sumber menyatakan bahwa dalam Sidang Dewan Perancang Pembangunan Nasional (DEPERNAS), bulan Agustus 1960, Bung Karno mengatakan bahwa rumah proklamasi akan dibongkar dan di atasnya akan dibangun Gedung Pola. Sedangkan menurut Harian Merdeka (9 September 1993) ada oknum-oknum yang tidak masuk dalam sejarah proklamasi menginginkan rumah itu dibongkar. Nah, mana yang benar ? Sebelum gedung ini dibongkar Henk Ngantung, Wakil Gubernur DKI waktu itu menghadap Bung Karno untuk memohon agar rumah TIDAK dibongkar. Dengan nada tinggi Bung Karno berkata: Apakah kamu juga yang termasuk mereka yang ingin memamerkan celana kolorku ?” (http://dasmandj.blogspot.com) | ||
| Sumarsongko Sastrowardoyo November 4, 2009 06:32 AM PST Mungkin alasan Landraadweg menjadi Jalan Perintis Kemerdekaan, karena Bung Karno pada tahun 1932 diadili di gedung pengadilan (landraad) yang terletak di jalan tsb, di belakang gereja. Pada satu-satunya foto kita lihat Bung Karno, dengan para pembela beliau, Mr. Sartono, Mr. Sastromoeljono dan Mr. Sujudi. Salam hormat, Sumarsongko Sastrowardoyo. | ||
| urang Bdg July 12, 2008 03:26 AM PDT landraadweg sekarang menjadi jalan perintis kemerdekaan. belum tahu alasan pilihan nama ini | ||
| Leave a Comment: |